Politik Eliminasi dan Sabotase

Politik Eliminasi dan Politik Sabotase (Untuk Bapak Oesman) 

Pada suatu malam yang dingin kira-kira 3 hari yang lalu kami bertemu dengan salah satu tokoh besar di kota kami Solo.Seorang Budayawan, tokoh politik dan masyarakat “Bapak Oesman”. Ada 2 lontaran menggelitik Beliau tentang perpolitikan Indonesia. Hal itu yang membuat bangsa dan negara ini tidak pernah keluar dari keterpurukan, terbenam lagi, restart dari awal lagi.

Politik adalah Politik “Eliminasi” dan “Sabotase”

Pertama adalah Politik Eliminasi :

Politik ini pertama kali dikembangkan oleh penjajah Belanda untuk menguasai Nusantara. Inti politik ini adalah :

step I mengerdilkan orang lain atau kelompok lain sehingga dia atau kelompoknya kelihatan besar.

step II menjelekkan atau memfitnah orang lain atau kelompok lain dengan segala cara dari arus perpolitikan sehingga bisa menguasai.

step III ketika opini fitnah tersebut telah dominan, maka orang atau kelompok lain tersebut dikucilkan dari kalau mungkin semua hal.

Begitu Machiavelian, begitu ganas, tetapi efektif melanggengkan kekuasaan dalam satu waktu. Tetapi ketika kekuatann kekuasaan itu melemah, arus balas dendam menggilas kekuasaan itu tak bersisa sampai-sampai hasil-hasil bagusnya pun ikut luluh lantak.

Politik Masa awal Republik Indonesia meluluh lantakkan semua bangunan sistem dan produk Hindia Belanda sehingga akses-akses yang menguntungkannya bagi masyarakat Indonesia pun ikut hilang.

Politik Orde Baru meluluh lantakkan semua hasil-hasil baik masa Orde Lama untuk melestarikan kekuasaanya walau dengan cara semu.. berhutang dengan luar negeri.

Politik Orde Reformasi awal-awal bahkan sekarang masih terjebak dalam euforia yang menganggap semua hasil-hasil Orde Baru, sampai-sampai demi demokrasi dan reformasi kita bisa melontarkan wacana dan kebijakan apapun demi golongan tanpa memperdulikan kemaslahatan umum dan kebangsaan Indonesia (sektarianisme).

Kalau kita cermati, memang hampir semua wacana dan kebijakan yang diambil satu orang atau kelompok di masa sekarang, sangat sarat dengan kepentingan parsial satu-dua golongan dibanding kepentingan integral sebagai satu bangsa yang utuh. Semua pengambilan keputusan dipaksakan untuk diambil berdasarkan voting 50% + 1 dibandingkan musyawarah.Rupanya politik eliminasi yang mentradisi inilah yang menyebabkan di Indonesia terkenal pepatah “Buruk muka cermin dibelah, Karena nila setitik rusak susu sebelanga”.

Kedua adalah Politik Sabotase : Politik ini adalah aksi-reaksi dari politik eliminasi. Karena kecenderungan dalam politik kekuasaan kita adalah menghabisi semua elemen yang tidak sesuai darinya atau kelompoknya secara brutal (politik eliminasi tersebut) sehingga hanya “cara-cara sabotase” yang masih bisa dilakukan untuk mempertahankan diri dan eksis. Hal ini terjadi ketika tarik-menarik dalam kutub-kutub kekuasaan masih berimbang. Setiap hari yang terjadi adalah ketika yang berkuasa mengambil kebijakan, implementasinya di lapangan digagalkan lawan-lawan politiknya.

Sebaliknya ketika lawan-lawan politik tersebut terlibat dalam membuat suatu undang-undang, pemerintah yang berkuasa me-nindasnya. Hal ini di dunia politik manapun wajar terjadi, tetapi jika berlangsung secara brutal dan tanpa melihat dasar awal bahwa kepentingan nasional diatas segala-galanya maka yang terjadi adalah satu periode tertentu yang terjadi berulang-ulang yaitu “gempa politik”.

Yang jelas dampaknya kepada maslahat masyarakat umum sangat negatif. Artinya masyarakat harus siap-siap setiap saat akan ada suatu periode ketika kerusuhan merajalela dan suatu saat berikutnya ketika negara dipenuhi kediktatoran.

Ada satu saat ketika ribuan orang mati demi lahir satu orde, ada satu saat lain ketika kita kehilangan bahan-bahan kebutuhan pokok kita karena sabotase lawan-lawan politik pemerintah.

Ada satu saat istilahnya ketika “tertawa” pun dilarang, dan ada suatu saat ketika mungkin maaf “buang air besar” di depan umum tidak ada yang menindak.

Memang nasib masyarakat Indonesia memang malang benar harus selalu siap dengan fluktuasi apapun…masyarakat poco-poco, tidak pernah maju hanya stagnan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: